Majelis Ulama Indonesia (MUI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengeluarkan seruan dalam rangka menyongsong datangnya bulan suci Ramadan 1447 H/ 2026 M. Dalam surat edaran bernomor 015/MUI-DIY/I/2026 tersebut, MUI DIY menekankan pentingnya menjaga harmoni dan ketenteraman di tengah masyarakat, mengingat adanya perbedaan awal waktu berpuasa.
Ketua Umum MUI DIY, Prof. Dr. KH. Machasin, M.A., secara gamblang mengimbau umat Islam di Yogyakarta, supaya bijak menyikapi perbedaan itu. Peluang tersebut memang cukup terbuka, disebabkan adanya kemungkinan perbedaan metode penentuan awal bulan dan sistem kalender yang digunakan.
Sebagai informasi, Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada 18 Februari 2026, berdasarkan Maklumat No. 01/MLM/1.1/B/2025 dan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) Muhammadiyah.
Sementara, pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) RI memutuskan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Kamis 19 Februari 2026 mengacu hasil sidang isbat pada 17 Februari 2026 lalu. “Dimohon kaum muslimin menyikapi dengan bijak agar senantiasa tercipta suasana yang tenteram di tengah umat Islam,” ujarnya.
Lebih lanjut, terkait teknis ibadah di masjid dan musala, MUI DIY meminta agar penggunaan pengeras suara tetap memperhatikan Surat Edaran Menteri Agama No. 5 Tahun 2022, baik dari segi volume maupun jam penggunaannya.
Selain itu, para pendakwah diharapkan menyampaikan materi tausiyah yang menyejukkan, meningkatkan iman, serta menjaga ukhuwah Islamiyah. “Kemudian, di tengah arus informasi digital, kami meminta warga berhati-hati terhadap berita atau ajaran yang berpotensi menyesatkan. Jika terdapat keraguan terkait masalah keagamaan, masyarakat disarankan berkonsultasi dengan MUI DIY atau ormas Islam yang kredibel,” tegasnya.
Selanjutnya, MUI turut mengimbau supaya umat Islam di Yogyakarta tidak berlebihan dalam mempersiapkan menu berbuka maupun sahur, untuk menghindari kemudaratan dan pemborosan.
Termasuk menjelang akhir Ramadan nanti, di mana dalam pelaksanaan takbir keliling masyarakat diminta memperhatikan ketertiban lingkungan dan lalu lintas. “Hindari hura-hura agar senantiasa tercipta suasana yang lebih khidmat dan sakral. Syukur lebih dioptimalkan takbiran di masjid dan musala,” pungkasnya. (*)
